Secara singkat perlu di ketahui bahwa Nenek moyang dari negeri Tounusssa
berasal dari suku Wemale yang adalah pancaran dari Nunusaku. Suku ini terpancar
dari nunusaku, kemudian mereka berkumpul di suatu tempat yang bernama Tamena
siwa dari tamena siwa suku tersebut terpancar lagi dan berdiam di suatu tempat
yang bernama Sapulau latale dari sapulau latale mereka berpancar lagi dan
sampailah mereka di Hulie kosinana dan mereka berdiam di sana. Karena tempat
itu di anggap sebagai tempat berkumpul, maka hulie kosinana ini di ganti nama
menjadi Walukune yang dalam bahasa Wemale, artinya tempat beerkumpulnya soa –
soa dari suku wemale .
Dari walukune ini keluarlah
parah Leluhur atau Moyang dari negeri Tounussa. Leluhur negeri Tonussa yang
keluar dari sana adalah :
1. Hautua Anakotta
2. Umone Mawene Meute dan
3. Soa Maitale
Beserta dengan seluruh keluarga dan sanak – saudara
mereka.
Sejarah mencatat bahwa mereka keluar dari walukune
ini bukan dengan tujuan untuk mendirikan sebuah Kampung. Hal ini di sebabkan karena mereka masih berstatus sebagai warga walukune
saat itu. Sebagai warga walukune, maka mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab
saat itu adalah mencari dan mengumpulkan makanan untuk memberi makan kepada seluruh masyarakat atau soa – soa dari suku wemale saat
itu.
Atas dasar itulah mereka harus membuat kebun – kebun yang baik dan
strategis untuk menghasilkan makanan yang lebih baik. Salah satu tempat di mana
mereka membuat kebun – kebun itu adalah Takila huwey ( Rumpun buluh/ Rumpun
bambu ). Dari tahun ke tahun mereka melaksanakan tugas itu sebagai warga
Walukune dengan baik. Namun karena penduduk di walukune makin hari makin bertambah
dan makin banyak, maka mereka mengambil keputusan untuk tidak mau kembali ke
walukune lagi. Dengan demikian oleh karena tempat di Takila huwey ini tidak
memberi harapan dan tempat untuk mereka tinggal
di sana, maka mereka berpindah ke suatu tempat yang bernama Liuone. Di Liuone
ini mereka membuat tenda berupa walang – walang sebagai tempat tinggal.
Dari hari ke hari tahun ke
tahun mereka tinggal di sana dengan aman, damai dan tantram laksana sebuah perkampungan kecil dan terpencil di
sebelah selatan daerah /kampung walukune.
Perlu di ketahui bahwa liuone dalam bahasa wemale artinya lembah/ kolam
air/ telaga (tempat yang berada di lembah) oleh karena itu di tempat itu tentu
tidak layak atau tidak memungkinkan bagi mereka untuk mendirikan sebuah kampung, sehingga atas prakarsa atau inisiatif dari bapak Hautua Anakotta,
untuk mereka harus pidah ke suatu tempat yang baik dan strategis untuk
mendirikan sebuah kampung.
Dari Liuone mereka harus pindah tempat ke Wakutia Huwey. Menurut bapak
Hautua Anakotta, Tempat ini berada di puncak gunung sehingga mereka dapat
memandang pulau-pulau yang berada di sebelah utara pulau
Seram seperti pulu tujuh dan lai- lain. Disitulah mereka mendirikan sebuah
kampong yang langsung di perintah dan di pimping oleh bapak Hautua Anakotta
sendiri. Nama kampong itu dalam bahasa Wemale adalah TOU E NUSSA .
Yang artinya :
TOU E = Memandang / Melihat
NUSSA = Pulau
TOU E NUSSA = Pandang Pulau
Pada jaman penjajahan belanda, nama Tou e nussa ini di rubah lagi
menjadi TOUNUSSA yang artinya tetap sama yaitu pandang pulau.
Demikian sejarah berdirinya Negeri PANDANG PULAU (
TOUNUSSA ) yang sekarang di kenal sebagai salah satu negeri yang berada di
Lokasi Kecamatan Taniwel Timur Kabupaten SBB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar