Laman

Minggu, 10 Mei 2015

Sejarah Terbentuknya Negeri Pandang Pulau (TOUNUSSA)

Secara singkat perlu di ketahui bahwa Nenek moyang dari negeri Tounusssa berasal dari suku Wemale yang adalah pancaran dari Nunusaku. Suku ini terpancar dari nunusaku, kemudian mereka berkumpul di suatu tempat yang bernama Tamena siwa dari tamena siwa suku tersebut terpancar lagi dan berdiam di suatu tempat yang bernama Sapulau latale dari sapulau latale mereka berpancar lagi dan sampailah mereka di Hulie kosinana dan mereka berdiam di sana. Karena tempat itu di anggap sebagai tempat berkumpul, maka hulie kosinana ini di ganti nama menjadi Walukune yang dalam bahasa Wemale, artinya tempat beerkumpulnya soa – soa dari suku wemale .
   Dari walukune ini keluarlah parah Leluhur atau Moyang dari negeri Tounussa. Leluhur negeri Tonussa yang keluar dari sana adalah :
1. Hautua Anakotta
2. Umone Mawene Meute dan
3. Soa Maitale
Beserta dengan seluruh keluarga dan sanak – saudara mereka.
Sejarah mencatat bahwa mereka keluar dari walukune ini bukan dengan tujuan untuk mendirikan sebuah Kampung. Hal ini di sebabkan karena mereka masih berstatus sebagai warga walukune saat itu. Sebagai warga walukune, maka mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab saat itu adalah mencari dan mengumpulkan makanan untuk memberi makan kepada seluruh masyarakat atau soa – soa dari suku wemale saat itu.
Atas dasar itulah mereka harus membuat kebun – kebun yang baik dan strategis untuk menghasilkan makanan yang lebih baik. Salah satu tempat di mana mereka membuat kebun – kebun itu adalah Takila huwey ( Rumpun buluh/ Rumpun bambu ). Dari tahun ke tahun mereka melaksanakan tugas itu sebagai warga Walukune dengan baik. Namun karena penduduk di walukune makin hari makin bertambah dan makin banyak, maka mereka mengambil keputusan untuk tidak mau kembali ke walukune lagi. Dengan demikian oleh karena tempat di Takila huwey ini tidak memberi harapan dan tempat untuk mereka tinggal di sana, maka mereka berpindah ke suatu tempat yang bernama Liuone. Di Liuone ini mereka membuat tenda berupa walang – walang sebagai tempat tinggal.
   Dari hari ke hari tahun ke tahun mereka tinggal di sana dengan aman, damai dan tantram laksana sebuah perkampungan kecil dan terpencil di sebelah selatan daerah /kampung walukune.
Perlu di ketahui bahwa liuone dalam bahasa wemale artinya lembah/ kolam air/ telaga (tempat yang berada di lembah) oleh karena itu di tempat itu tentu tidak layak atau tidak memungkinkan bagi mereka untuk mendirikan sebuah kampung, sehingga atas prakarsa atau inisiatif dari bapak Hautua Anakotta, untuk mereka harus pidah ke suatu tempat yang baik dan strategis untuk mendirikan sebuah kampung.
Dari Liuone mereka harus pindah tempat ke Wakutia Huwey. Menurut bapak Hautua Anakotta, Tempat ini berada di puncak gunung sehingga mereka dapat memandang pulau-pulau yang berada di sebelah utara pulau Seram seperti pulu tujuh dan lai- lain. Disitulah mereka mendirikan sebuah kampong yang langsung di perintah dan di pimping oleh bapak Hautua Anakotta sendiri. Nama kampong itu dalam bahasa Wemale adalah TOU E NUSSA .
Yang artinya :
TOU E = Memandang / Melihat
                                                            NUSSA = Pulau
TOU E NUSSA = Pandang Pulau
Pada jaman penjajahan belanda, nama Tou e nussa ini di rubah lagi menjadi TOUNUSSA yang artinya tetap sama yaitu pandang pulau.


Demikian sejarah berdirinya Negeri PANDANG PULAU ( TOUNUSSA ) yang sekarang di kenal sebagai salah satu negeri yang berada di Lokasi Kecamatan Taniwel Timur Kabupaten SBB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar